Home » Info » Tradisi Suroan di Ponorogo Mulai dari Gerebeg Suro hingga Festival Reog

Tradisi Suroan di Ponorogo Mulai dari Gerebeg Suro hingga Festival Reog

Ponorogo merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini memiliki potensi pariwisata yang cukup baik mulai dari wisata alam, wisata religi, hingga wisata budaya.

Wisata alam di sana bisa kita temukan di Gunung Pringgitan, Gunung Bayangkaki, Gunung Gajah, Gunung Bedes, Air Terjun Widodaren, Air Terjun Juruk Klenteng, Air Terjun Pletuk, Air Terjun Toyomerto, Air Terjun Sunggah, Air Terjun Lawe, Telaga Ngebel, Kali Keyang, Goa Lowo, dan masih banyak lagi.

Untuk wisata religi ada berbagai makam sespuh yang bisa dikunjungi seperti Makam Bathoro Katong, seorang pendiri kadipaten Ponorogo.

Selain itu tentunya Ponorogo memiliki wisata budaya yang dangat terkenal yaitu Grebeg Suro. Acara ini sudah dicatat menjadi kalender wisata nasional oleh Kementrian Pariwisata.

Sebuah acara yang sangat sayang jika terlewatkan oleh wisatawan. Tidak hanya wisatawan lokal, Grebeg Suro juga ampuh menyedot wisatawan mancanegara. Banyak hotel di Ponorogo juga mengalami kenaikan signifikan selama periode ini.

Grebeg Suro berawal dari tradisi suroan. Suroan adalah kebiasaan masyarakat Ponorogo dalam menyambut bulan asyura atau yang juga dikenal sebagai bulan Muharam dalam Islam.

Bagi masyarakat Jawa termasuk masyarakat Ponorogo, Suro merupakan bulan yang istimewa karena merupakan bulan pertama, sangat keramat dan memiliki kharisma tertentu. Suro dianggap sebagai langkah awal sebagai pintu gerbang manusia memasuki sebuah kehidupan baru.

Dalam tradisi suroan terdapat berbagai ritual yang dilakukan secara turun temurun salah satunya adalah Grebeg Suro itu sendiri. Pada zaman dahulu masyarakat Ponorogo memiliki kebiasaan tirakat dengan berjalan mengelilingi kota.

Pemberhentian perjalanan mereka berada di alun-alun Ponorogo. Pada kesempatan ini di tahun 1987 Bupati Soebarkah melihat peluang besar untuk mewadahi ide kreatif para pemuda Ponorogo yang dirasa semangatnya sudah mulai luntur untuk melestarikan tradisi.

Mengingat pergantian tahun masehi dan hijriah berbeda-beda setiap tahunnya maka Grebeg Suro juga tidak memiliki waktu yang pasti. Grebeg Suro akan dilaksanakan sesuai dengan pergantian tahun baru hijriah.

Dari asal katanya, menurut kamus bahasa Jawa, Grebeg berasal dari kata garebeg yang artinya adalah keriyaan, keramaian, dikunjungi banyak orang. Oleh karena itu, pelaksanaan Grebeg Suro selalu dilakukan oleh peserta dengan jumlah yang banyak.

Pelaksanaan Grebeg Suro dimulai saat siang hari dengan penyerahan pusaka menuju ke bupati pertama Ponorogo yaitu Bathara Kathong. Beliau selain menjadi bupati pertama atau yang saat itu disebut adipati juga merupakan tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Ponorogo.

Pada zaman itu diceritakan bahwa Ponorogo merupakan bagian dari kerajaan Majapahit dan masih bernama Wengker yang dipimpin oleh Ki Ageng Kutu atau Suryongalam. Akan tetapi Ki Ageng Kutu tidak tunduk ke bawah pimpinan Majapahit bahkan justru melakukan perlawaanan besar-besaran.

Bathara Kathong sebagai Putra dari Prabu Brawijaya penguasa Majapahit saat itu berhasil mengalahkan Ki Ageng Putu. Melalui kekalahan tersebut, maka Wengker kemudian dikuasai oleh Bathara Kathong.

Oleh sebab itu misi awal Bathara Kathong menyebarkan agama Islam di wilayah Wengker dapat berjalan dengan baik. Bahkan beliau sempat membangun sebuah mesjid yang saay ini berada di sebelah Barat makamnya.

Pusaka yang diarak seperti yang disebutkan di atas antara lain Angkin Cinde Puspito (sabuk), Payung Songsong Tunggul Wulung dan Tombak Tunggul Nogo. Ketiga pusaka tersebut dipercaya bisa menjadi penghalang kekuatan gaib yang jahat, tameng dan senjata pencabut nyawa.

Penyerahan pusakadilakukan dengan prosesi kirab dengan melibatkan pejabat kabupaten, seniman, pemangku adat dan masyarakat setempat. Bupati yang saat ini menjabat bertugas menyerahkan ketiga pusaka ke sespuh atau pemangku adat untuk sebelumnya diantar ke pendopo kabupaten.

Di dalam kirab ini juga sekaligus memperingati perpindahan pusat kota yang tadinya berada di bagian barat menjadi ke tengah kabupaten.

Para seniman dalam kesempatan itu berperan sebagai dayang-dayang, warok, bujangganom dan makhluk-makhluk yang dianggap aneh lainnya. Tentu saja tidak ketinggalan reog dengan bulu meraknya turut mengiringi prosesi Grebeg Suro.

Malam setelah prosesi ini di alun-alun Ponorogo tepatnya di masjid agung diadakan pengajian sekaligus istighosah.  Pengunjung akan diajak untuk berdoa dan merenungi hal-hal yang telah dilakukan di tahun sebelumnya dan akan dilakukan di tahun depan. Terkadang setelah selesai akan ada hiburan berupa nonton bersama video reog atau campursari.

Pada hari terakhir pelaksanaan Grebeg Suro akan ada Larungan Risalah Doa di salah satu telaga. Telaga yang dipilih biasanya adalah Telaga Ngebel, sebuah telaga di lereng gunung wilis yang terkenal dengan kesejukan dan keindahannya.

Larungan sesajen dilakukan oleh sang juru kunci. Uniknya Sang Juru Kunci membawa sesaji tersebut dengan cara berenang sembari mendorong rakitnya hingga tengah, bukan menggunakan kapal. Menurut mitos yang beredar, siapapun yang bisa mendapatkan bagian dari sesaji tersebut maka akan mendapat keberkahan. Dipercaya pula dengan begitu kehidupannya akan menjadi lebih baik.

Sebagai kabupaten yang dijuluki kota Reog, Ponorogo melaksanakan grebeg Suro bersamaan dengan Festival Reog Nasional.Festival Reog ini diikuti oleh puluhan komunitas reog di berbagai penjuru Indonesia.

Tidak hanya dari dalam negeri beberapa negara juga sempat terlibat seperti Korea, Cina, dan Australia. Dengan melibatkan ratusan seniman acara ini dibuat benar-benar megah dan mewah layaknya konser artis-asrtis terkenal.

Hal ini membuktikan bahwa pemerintah Ponorogo benar-benar memperhatikan seni tradisi asli dari kotanya.

Tidak hanya festival reog dan Grebeg Suro dalam rangkaian Suroan. Panitia juga menggelar berbagai pameran, lomba dan pentas-pentas seni.Pameran-pameran tersebut antara lain ada pameran pusaka, pameran seni rupa, dan pameran fotografi. Lomba macapat, lomba karawitan dan lomba burung perkutut juga tidak ketinggalan memeriahkan acara ini dan untuk hiburannya pengunjung bisa menyaksikan pagelaran wayang kulit.

Selain acara-acara seperti itu yang dirasa sangat tradisional, ada pula acara anak muda yang dianggap kekinian namun tetap menjunjung tardisi yaitu pentas musik Jazz.

Musisi pengisi pentas musik jazz yang tidak pernah ketinggalan adala grup Jaz Tilan. Meskipun mereka memiliki warna musik yang pada dasarnya sama dengan grup musik jazz umumnya namun yang unik dari mereka adalah baik atribut maupun pakaian yang mereka gunakan selalu bernuansa tradisional Ponorogo.

Meskipun memakan dana sangat banyak namun berbagai nilai positif terkandung dalam perayaan ini. Tentu saja melestarikan tradisi agar punah menjadi poin penting dalam perayaan suroan.

Selain itu masih ada nilai-nilai lain seperti nilai kerjasama, tolong menolong, ekonomi dan masih banyak lagi. Acara Grebeg Suro, Festival Gamelan dan berbagai pameran, lomba, maupun pentas seni menyebabkan bertambahnya wisatawan yang datang ke Ponorogo baik lokal maupun mancanegara.

Hal itu membuat roda perputaran uang di sana mengalir kencang. Para pengusaha kecil sampai menengah turut merasakan imbasnya. Penginapan, tempat makan dan berbagai makanan kecil sangat dibutuhkan pengunjung. Oleh sebab itu maka tidak heran jika rezeki warga Ponorogo melimpah saat rangkaian acara Suroan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

three × 1 =