Home » Info » Petik Laut Banyuwangi, Wujud Syukur Nelayan Muncar

Petik Laut Banyuwangi, Wujud Syukur Nelayan Muncar

Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di ujung paing timur pulau Jawa. Sebelah timur dan selatan kabupaten ini berbatasan langsung dengan Selat Bali dan Samudra Hindia.

Ada tiga kecamatan menghadap Samudra Hindia, tujuh kecamatan menghadap Selat Bali dan satu kecamatan menghadap Laut Jawa. Ke sebelas kecamatan tersebut memiliki garis pantai yang jumlahnya sepanjang 282 km.

Bahkan di Banyuwangi juga terdapat salah satu pantai yang dianggap memiliki ombak paling keren di dunia yaitu G-Land. Lokasi ini yang menyebabkan begitu banyak hotel di Banyuwangi yang jadi populer hingga mancanegara.

Melihat kondisi geografis seperti itu sudah tidak heran jika masyarakatnya cukup akrab dengan laut. Banyak masyarat banyuwangi yang berprofesi sebagai nelayan. Laut dan pesisir pantai memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Setiap detail yang dihasilkan oleh laut dan pesisir sangat berguna seperti mangrove, terumbu karang, ikan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu tidak heran jika masyarakat Banyuwangi memiliki rasa syukur tersendiri terhadap laut. Hal itu dibuktikan dengan sebuah ritual yang kerap dilakukan setiap tahun yaitu Petik Laut.

Tradisi Petik Laut biasanya dilakukan di kecamatan Muncar. Muncar merupakan pelabuhan besar bagi banyak nelayan dari berbagai tempat seperti Madura, Lombok, Bali, Mandar, Jawa dan nelayan dari suku Osing sendiri (suku yang mendiami wilayah banyuwangi).

Wilayah laut Muncar disinyalir menjadi penghasil ikan paling banyak se Indonesia. Saking banyaknya jumlah ikan di sana hingga ada yang mengatakan bahwa Muncar adalah “ladang emas” untuk mencari ikan.

Konon pada zaman dahulu tradisi Petik Laut merupakan ruwatan yang dilakukan di Semenanjung Sembulungan yang berasa di tengah hutan Alas Purwo. Alas Purwo diyakini sebagai salah satu istana Nyi Roro Kidul yang behubungan sangat erat oleh Dewi Sri sebagai Dewi Padi.

Waktu pelaksanaan Petik Laut dari tahun ke tahun tidak selalu sama. Hal tersebut karena pelaksanaan Petik Laut berlandaskan pada tahun perhitungan bulan bulan.

Tradisi ini diadakan setiap bulan Muharam dan saat bulan purnama karena pada saat itu laut dalam kondisi pasang sehingga para nelayan tidak ada aktivitas mencari ikan.

Ritual inti dari tradisi Petik Laut adalah melarung sesaji ke tengah laut. Sesaji yang paling utama adalah kepala kambing kendit. Pemilihan kambing kendit karena warna putih hitam di tubuhnya melambangkan sikap baik buruk manusia.

Kambing kendit adalah seekor kambing yang seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali bagian pingganya berwarna putih. Dinamakan kendit karena seolah-olah kambing tersebut memakai kendit sebutan untuk ikat pinggang dari kain dalam bahasa jawa.

Kepala kambing yang dilarung tidak boleh hancur karena isi kepala dan otak kambing harus lengkap. Selain kepala kambing yang tidak boleh ketinggalan adalah mata kaki dan darah kambing kendit.

Maksud dari sesaji tersebut adalah penggambaran nelayan dalam mencari ikan. Kaki, tangan, tubuh dan pikiran nelayan harus bekerja keras untuk mendapatkan ikan terbaik, bukan hanya tenaga saja yang digunakan.

Sesaji utama tersebut dibuat oleh seorang pawang atau sesepuh nelayan yang merupakan keturunan warga Madura. Konon selama ratusan tahun lalu warga madura berdoyong-doyong memasuki daerah Muncar sebagai nelayan.

Oleh karena itu tidak heran jika banyak ornamen-ornamen suku Madura selama tradisi Petik Laut. Salah satu ornamen paling mencolok adalah pakaian Sakera yang terdiri dari baju dan celana hitam-hitam ditambah celurit di pinggangnya, khas seperti pakaian suku Madura.

Dalam tradisi ini, Sakera merupakan tim pengaman ritual. Mereka bertugas mengawal sesaji hingga mengatur warga yang seringkali berebut saat naik ke atas perahu.

petik laut muncar

Penamaan Sakera diambil dari penyebutan seorang tokoh pejuang asal Pasuruan sekitar permulaan abad ke-19. Sebagai jagoan daerah, ia sangat berani melawan diktator Belanda. Para Sakera pada ritual Petik Laut dipilih yang berbadan besar, sangar, angker, berkumis tebal namun pandai melucu sebagai hiburan.

Selain kambing bandit masih ada juga beberapa komponen yang sarat akan makna sangat diperlukan dalam membuat sesaji antara lain:

  1. Pisang Raja : Nelayan merupakan raja di lautan, dalam bekerja harus patang menyerah dan berani mati.
  2. Kemenyan : Di dalam kemenyan diisi oleh kapur, sirih, dan tembakau, maksudnya agar masyarakat senantiasa menghormati para leluhurnya dan ingat dengan petuahnya.
  3. Pancing Emas : Dipilihnya pancing yang berwarna emas merupakan simbol bahwa ikan di lautan itu nilainya setara dengan emas sehingga para nelayan harus bekerja keras untuk mendapatkannya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
  4. Damar Kambang : Wadah dari tempurung kelapa yang bisa menghasilkan nyala api sebagi penerang. Di dalam wadah tersebut berisi minyak kelapa sebagai bahan bakar. Maksud dari komponen ini adalah agar segala kehidupan nelayan senantiasa diberkahi oleh cahaya dan penerang dari Yanng Maha Kuasa.

Tradisi Petik Laut ini melibatkan banyak elemen masyarakat, mulai dari pejabat, seniman, tokoh masyarakat dan tentunya nelayan itu sendiri. Masyarakat sekitar Muncar sangat membantu dalam tradisi ini terutama dalam pembuatan perlengkapan sesaji.

Sehari sebelum larung sesaji dilaksanakan diadakan arak-arakan dari rumah pawang ke githik yang akan digunakan.  Githik adalah perahu kecil untuk membawa sesaji dengan panjang kurang lebih lima meter.

Githik dibuat mirip kapal nelayan saat melaut dengandesain seindah dan semenarik mungkin. Pada malam harinya, di tempat githik diletakan diadakan selamatan, pengajian dan doa bersama demi kelancaran acara esok hari.

Prosesi Petik Laut diawali oleh prosesi idher bumi saat pagi di hari pelaksanaan Petik Laut. Idher bumi adalah pengarakan sesaji di dalam Githik ke seluruh penjuru kampung sebelum dibawa ke pinggir pantai.

Saat idher bumi ini seniman-seniman di Banyuwangi menampilkan berbagai kebolehannya seperti kelompok-kelompok penari gandrung beserta pemusik pengiringnya.

Tidak hanya musik tradisi, musik modern seperti marching band dan musik religi semacam hadrah kuntulan juga turut unjuk gigi dalam acara ini. Idher Bumi berhenti di tempat pelelangan ikan dan disambut oleh tari Gandrung.

Pada dini hari memasuki acara inti, sesaji-sesaji dan githik diangkut menuju perahu besar untuk dibawa ke tengah laut dan dilarung. Perjalanan menuju ke tengah laut diiringi oleh banyak perahu berhiaskan umbul-umbul warna warni.

Di Plawangan, sebuah kawasan dekat Semenanjung Sembulungan iring-iring perahu berhenti untuk menurunkan sesaji. Saat sesaji-sesaji tersebut sudah jatuh dan tenggelam, para nelayan berlomba-lomba menceburkan diri ke laut dan berebut mendapatkan hasil bumi yang sudah dilarung. Mereka percaya bahwa hasil larungan tersebut membawa berkah tersendiri.

Sebelum prosesi berakhir, iring-iringan petahu menuju makam Sayid Yusuf, sespuh pertama yang dipercaya membuka daerah tersebut.  Di tempat tersebut para penari gandrung digendong turun dari perahu untuk menari di makam Buyut Gantung dan Sayid Yusuf.

Bila anda tertarik untuk melihat festival ini namun tidak mau ribet, bisa coba gabung dengan paket tour Banyuwangi, dimana semua sudah dihandle oleh tour operator di daerah tersebut.

Para penari akan bersujud di pusara tersebut dan mengelilingi makam sebanyak tiga kali. Setelah semua prosesi ritual telah dilaksanakan, acara tersebut diakhiri dengan syukuran dan pesta tari dan musik Gandrung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

three × 4 =