Home » Info » Perang Obor di Jepara

Perang Obor di Jepara

Jepara, sebagai salah satu kota di provinsi Jawa Tengah memiliki sebuah desa dengan pantainya yang cantik. Desa tersebut bernama Tegalsambi. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota Jepara, jika diukur kurang lebih sepanjang empat meter.

Oleh karena itu, Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi menetapkan desa ini sebagai desa wisata. Selain kecantikan pantai, di sana juga terdapat tradisi unik yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu perang obor.

Masyarakar Tegalsambi mengenal perang obor dengan nama obor-oboran. Pelaksanaan acara ini tidak mengikuti kalender masehi melainkan kalender hijriah. Obor-oboran rutin dilaksanakan setiap hari Senin Pahing atau malam Selasa Pon di bulan Dzulhijjah.

Waktu pelaksanaannya dimulai usai sholat Isya atau sekitar pukul 20.00 namun biasanya pukul 19.00  pasukan perang obor sudah bersiap-siap.

Obor yang digunakan untuk perang ini berbeda dengan obor-obor biasa. Obor khusus ini terbuat dari dua atau tiga buah gulungan pelepah kelapa kering kemudian di dalamnya diisi oleh daun pisang kering.

Panjang obor tersebut antara dua sampai tiga meter. Setelah obor siap dimainkan dengan cara dipukul-pukulkan ke lawannya sehingga muncul percikan-percikan api. Biasanya permainan ini dilaksanakan selama satu jam atau setelah semua pelepah habis terbakar.

Peserta yang mengikuti acara ini cukup banyak bisa mencapai puluhan orang. Tidak ada kostum proteksi khusus dalam perang obor. Mereka hanya menggunakan baju lengan panjang dan caping sebagai pelindung kepala.

perang_obor_unik

Oleh karena itu, permainan ini dimainkan oleh orang yang sudah ahli karena sangat berbahaya. Pemilihan pemain sudah ditentukan oleh perangkat desa. Ada pula yang mengatakan bahwa para pemain ini memiliki jampi-jampi khusus agar tahan panas.

Apabila peserta maupun penonton perang obor ada yang terluka, masyarakat di sana percaya tidak perlu dibawa ke Rumah Sakit cukup dioleskan oleh obat yang mereka buat.

Mereka telah menyediakan ramuan khusus bernama minyak blonyoh. Minyak ini dibuat dari bungakering yang didapat dari pundhen (makam keramat)  desa-desa setempat dan dicampur menggunakan minyak kelapa.

Bunga ini adalah bunga yang dipakai setiap hari Jumat saat doa bersama di rumah Kepala Desa selama satu tahun. Minyak kelapa yang digunakan juga harus minyak kelapan murni buatan sendiri. Dari tahunn ketahun yang ditugaskan untuk membuat ramuan ini adalah istri-istri petinggi desa Tegalsambi. Konon jika dibawa ke rumah sakit justru masa penyembuhannya akan lama.

Ada kisah menarik berkaitan dengan awal mula acara ini diselenggarakan. Diceritakan sekitar abad ke XVI ada seorang petani kaya raya bernama Kyai Babadan. Ia memiliki banyak sekali hewan ternak.

Akan tetapi karena kesibukannya ternak-ternak tersebut kurang terurus. Kemudian salah satu tetangganya bernama Ki Gemblong berkenan untuk mengurus ternak-ternak Kyai Babadan. Di tangan Ki Gemblong, ternak-ternak tersebut menjadi sehat, gemuk dan beranak pinak. Kyai Babadan senang dan mempercayakan seluruh ternaknya kepada Ki Gemblong.

Suatu hari saat Ki Gemblong memandikan ternak di sungai, ia melihat banyak ikan dan udang. Karena bosan, ia kemudian menangkap dan memanggangnya. Ternyata rasa ikan dan udang itu sangat lezat sehingga Ki Gemblong tidak hanya mengkonsumsi sendiri namun juga menjualnya.

Kesibukan barunya tersebut membuat ia abai dengan terna-ternak titipannya. Ternak-ternak menjadi kembali kurus dan tidak terawat. Kyai Babadan sangat marah saat mengetahui hal tersebut.

Kyai Babadan mencari Ki Gemblong dan menemukannya sedang membakar ikan. Melihat hal tersebut Kyai Babadan memukul Ki Gemblong dengan blarak, sebutan untuk daun kelapa kering dengan ujung terbakar.

Ki Gemblong tidak terima kemudian membalas perlakuan Kyai Babadan. Pertengkaran tersebut membuat api merambat ke sekitar mereka hingga membakar kandang-kandang ternak.

perang obor jeparaAkan tetapi sebuah keajaiban terjadi. Ternak yang mulanya sakit dan kurus menjadi sehat dan gemuk. Melihat hal tersebut mereka terus melakukan perang api namun tanpa disertai rasa dendam maupun marah.

Ada pula folklor lain yang menceritakan bahwa pada abad ke XVI  di Desa Tegalsambi hewan-hewan ternak terjangkit wabah penyakit. Konon wabah tersebut disebabkan oleh kemarahan roh halus.

Mereka tidak mengetahui bagaimana cara menyembuhkannya. Suatu hari Kyai Gemblong sebagai orang tersohor di sana menyuruh Joko Wongso, penggembala ternaknya meminta api pada kyai Dasuki untuk membakar ikan.

Kyai Dasuki menyuruh Joko Wongso mengambil sendiri api di kandang yang biasanya digunakan untuk mengusir nyamuk dan sebagai penerangan.

Saat Joko wongso ke kandang api di kandang tersebut mati, Joko Wongso berusaha menyalakan kembali.  Akan tetapi tindakan Joko Wongso membuat ternak-ternak di kandang terkejut kemudian lari keluar tanpa bisa dikendalikan.

Mengetahui hal tersebut Kyai Dasuki menyuruh Joko Wongso membantunya mengejar ternak-ternak tersebut namun Joko Wongso menolak dan marah-marah dan memukulkan obor yang dipegangnya ke Kyai Dasuki.

Beberapa saat setelah kejadian tersebut ternak-ternak di sana menjadi sehat kembali. Masyarakat percaya bahwa hal tersebut terjadi karena tindakan Joko Wongso memukulkan obor ke Kyai Dasuki. Sejak saat itulah ritual perang obor dilakukan.

Sebenarnya maksud dari tradisi ini adalah ungkapan rasa syukur dan salah satu cara untuk berdoa terhadap Tuhan atas kesehatan ternak warga Tegalsambi. Sebelum pelaksanaan perang obor, akan dipanjatkan rangkaian doa.

Selain memanjatkan doa, sebelum  perang obor mulai ada sebuah tradisi lain dengan berkumpulnya para peserta di rumah kepala desa.

Usai kumandang azan Isya, mereka melakukan kirab menuju perempatan Tegalsambi (tempat perang obor dilaksanakan) dengan jarak kurang lebih 200 meter. Selain peserta kirab juga diikuti oleh jajaran pejabat setempat seperti Bupati Jepara, Wakil Bupati Jepara, Kapolres Jepara, Kepala Desa Tegalsambi beserta jajarannya.

Mereka membawa uba rampe sebagai salah satu sarana dalam berdoa. Sesampainya di perempatan, peserta kirab akan disuguhi oleh pertunjukan seni teatrikal tari obor. Di perempatan inilah doa-doa dipanjatkan oleh sesepuh desa.

Perang obor benar-benar dimulai saat api pertama disulut oleh Bupati Jepara dilanjutkan oleh sulutan-sulutan api lain oleh para peserta. Usai semua api sudah menyala pemain mulau saling hantam dengan obor yang mereka miliki.

Dalam even tersebut, panitia menyiapkan ratusan obor. Masyarakat yang menonton perang obor sangat banyak memenuhi bagian sisi kanan dan kiri arena permainan. Suara riuh dan teriakan penonton menambah suasana semarak malam itu.

Penonton dalam acara ini bukan hanya dari wilayah Jepara namun juga dari luar Jepara. Mereka menonton dalam jarak yang relatif dekat. Bagi mereka yang ingin menguji adrenalin, permainan ini merupakan acara yang tepat untuk ditonton.

Serpihan-serpihan api panas terbang ke berbagai sudut terbawa angin berpotensi membuat penonton terkena cipratan api.Akan tetapi mereka tetap menikmati acara perang obor. Bahkan ada beberapa penonton yang bangga jika terkena percikan api. Hal itu dirasa sebagai momen spesial dan menyenangkan untuk berfoto-foto.

Selain perang obor, pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan sedekah bumi sebagai rasa syukur terhadap keberhasilan panen raya warga desa Tegalsamni. Rangkaian acara sedekah bumi dimulai dengan ziarah ke makam leluhur desa.

Ada pula karnaval seni, bazar murah, festival dolanan anak, wayang kulit semalam suntuk, khataman Al-quran, pengajian umum dan pagelaran seni.

Acara ini memang menjadi destinasi wisata tahunan di kabupaten Jepara sehingga banyak hotel di Jepara  yang penuh selama periode Festival Obor ini. Apalagi perang obor ini hanya satu-satunya di dunia.

Selain untuk melestarikan tradisi, memupuk kebersamaan dan gotong royong dengan acara semacam ini diharapkan geliat ekonomi masyarakat dapat disokong dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

8 − six =