Home » Info » Jazz Gunung di Bromo dari Tahun ke Tahun

Jazz Gunung di Bromo dari Tahun ke Tahun

Salah satu destinasi wisata utama di Jawa Timur adalah Gunung Bromo. Gunung ini merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa. Letusan Gunung Bromo disinyalir relatif teratur dalam interval 20 abad ini kurang lebih sekitar 30 tahun sekali. Letusan terakhir Gunung Bromo terjadi pada tahun 2010.

Gunung Bromo berada di dalam empat kabupaten yaitu, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang dengn ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut. Terdapat lembah, ngarai, dan lautan pasir seluas 10 KM yang mewarnai keadaan Gunung Bromo. Kondisi seperti itu menarik keindahan tersendiri bagi masyarakat penikmat alam.

Tidak hanya pemandangan dari atas gunung saja yang terlihat indah, pemandangan  gunung dari jauh juga menyenangkan pandangan mata. Hal tersebut tentu meningkatkan potensi pariwisata Jawa Timur.

Tidak hanya keindahan asli yang dimiliki Gunung Bromo sendiri yang menjadi daya tarik wisatawan namun juga berbagai even yang diselenggarakan di sana membuat Gunung Bromo menjadi tujuan utama destinasi pariwisata setiap tahun. Salah satu acara yang bisa disaksikan adalah Jazz Gunung.

Menurut beberapa sumber, Jazz Gunung pertama kali diadakan mulai tahun 2009. Penggagas acara ini ada tiga orang pecinta musik Jazz yaitu Sigit Parmono, Butet Kertaredjasa dan Djaduk Ferianto.

Sigit Pramono meskipun seorang bankir, ia memiliki kecintaan yang tinggi terhadap fotografi, Bromo dan tentunya musik Jazz itu sendiri. Apalagi dua kakak-beradik Butet Kertaredjasa dan Djaduk Ferianto yang sudah tidak diragukan lagi kiprahnya di dunia seni tentu saja mereka menjadi pendukung setia Jazz di tanah air.

Tujuan mereka membangun acara Jazz Gunung antara lain untuk meningkatkan apresiasi terhadap musik Jazz khusunya Jazz etnik dan mendorong paket wisata Bromo.

Jazz yang awalnya dianggap sebagai musik kalangan kaum elite dan eksklusif ingin disajikan lebih merakyat dan melekat pada alam.Selain itu tentu saja keinginan mereka untuk meningkatkan nilai potensi pariwisata Indonesia khususnya Gunung Bromo agar populer di kancah dunia.

Pada awal pelaksanaan kegiatan, ketiga pemrakasa menargetkan hanya dikunjungi oleh 300 orang pengunjung. Seiring berjalannya waktu pengunjung yang mengetahui even bergengsi ini meningkat.

Berikut perkembangan Jazz Gunung dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2009 Kegiatan ini berlokasi di Java Banana Bromo. Berbagai musisi dihadirkan untuk mengisi acara seperti KUA Etnika, Djaduk Ferianto dan Trie Utami.

Tidak hanya musisi terkenal saja, acara ini juga melibatkan musisi-musisi lokal. Berbagai kesenian tradisional seperti tari-tarian dan musik tradisi turut serta berkolaborasi pada acara tersebut.

Tahun 2010 Jazz Gunung dilaksanakan di tempat yang sama dengan tahun 2009. Musisi yang mengisi acara tersebut antara lain EF feat Syahrini dan Donny Suhendra, Balawan, Komunitas Jazz C26 Surabaya, Malang Jazz Forum dan Monday Night Band Yogyakarta.

Selain itu tentu saja kelompok musik tradisional juga ikut tampil seperti Jathilan-Reog Ponorogo.

Tahun 2011 Jazz Gunung turut serta dalam kebangkitan Bromo. Erupsi gunung Bromo pada November 2010 hingga bulan Maret 2011 membuat wisatawan enggan berkunjung ke Bromo. Hal itu tentu saja mengganggu perekonomian warga setempat.

Melalui Jazz Gunung wisatawan yang mulanya berkurang kembali bertambah dan mereka yakin bahwa gunung Bromo aman dan tidak semenyeramkan seperti saat erupsi.

Musisi yang hadir pada tahun 2011 juga tidak kalah menarik seperti Kua Etnika, Tohpati and The Ethnomission, Perkusi Kramat Madura asal Sumenep dan Kolaborasi Gamelan Perkusi Asal Probolinggo.

Pada pembukaan acara  tidak ketinggalan atraksi Reog Jathilan dan kelompok gandrung asal Probolinggo menyuguhi mata dan telinga pengunjung.

Tahun 2012 merupakan tahun pertama Jazz Gunung dilaksanakan selama dua hari. Musisi yang tampil antara lain adalah Glenn Fredly, Tompi, Dewa Budjana dan Slamet Gundono, Ring Fire Project feat Djaduk Ferianto, Iga Mawarni, Benny & Barry Likumahua, Muchi Choir Yogyakarta, Gondho Jazz Tri-Surabaya dan Kelompok Seni Damarwangi Banyuwangi.  Dengan mengangkat tema  “Signature” acara ini dibuka oleh kelompok Jazz Etno dari Probolinggo bernama Gita Taruna.

Tahun 2013 Jazz Gunung memiliki tema “Indahnya Jazz Merdunya Gunung”.  Selama dua hari pagelaran ini menghadirkan berbagai musisi mulai dari yang masih muda dan pemula hingga yang sudah cukup senior melanglang buana di dunia permusikan.

Musisi-musisi tersebut antara lain adalah Yovie Widianto Fusion, Balawan and Batuan Ethnic Fusion, Bandanaira Duo, Sierra Soetedjo, Blambangan Art School Banyuwangi, Cantrek, Barry Likumahuwa Project, Rieka Roslan, Ring of Fire Project featuring Djaduk Ferianto, Idang Rasjidi and Jen Shyu, Kulkul Band,

Kelompok Musik Etnik Kramat Madura, dan Tahez Komez. Untuk tempat pelaksanaannya masih sama yaitu di Java Banana Bromo. Akan tetapi ada hal yang berbeda dari venue di tahun 2013 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yakni Panggung Terbuka Java Banana Bromo dikembangkan menjadi aphitheater nan megah. jazz gunung

Diharapkan perkembangan venue tersebut dapat menampung lebih banyak pengunjung dan tentunya menambah kenyamanan mereka yang mendatanginya. Beberapa hotel di Bromo seperti Lava View menjadi favorit utama ketika periode festival.

Tahun 2014 Jazz Gunung membawa pesan tersendiri melalui tema yang disampaikan. Dengan tema “Sedekah Bumi Lewat Bebunyi” diharapkan masyarakat yang menyaksikan Jazz Gunung lebih peka terhadap kelestarian alam.

Para musisi baik dari dalam maupun luar negeri menghibur pengunjung selama dua hari. Musisi-musisi tersebut antara lain adalah Ligro Trio, Monita Tahalea & The Nightingales, The Overtunes, Bintang Indrianto Trio, Syaharani & Queenfireworks (ESQI: EF), Indro Hardjodikoro & The Fingers dan Nicole Johaenntgen pemain saksofon asal Jerman.

Tahun 2015 merupakan kali ke tujuh diselenggarakannya Jazz Gunung maka diangkatlah tema Jazz Gunung Kaping Pitu, Alam dan Musik Bersatu. Seperti pada pertunjukan-pertunjukan sebelumnya Jazz Gunung memadukan antara keindahan musik dan alam yang disampaikan oleh musisi-musisi nasional maupun internasional.

Pada tahun ini, sebanyak tiga negara turut serta meramaikan Jazz Gunung yang diwakili oleh grup musik Jazz Ian Scionti Trio dari Spanyol, SU:M dari Korea Selatan dan Ernesto Castillo dari Meksiko.

Tak kalah ketinggalan musisi asli Indonesia yaitu Dwiki Dharmawan Jazz Connection, Ermy Kullit, Shaggy Dog, The Groove, Ring of Fire featuring Bonita & Ricad Hutapea, Penny Candarini, SambaSunda dan Nial Djuliarso trio featuring Arief Setiadi.

Tahun 2016 Jazz Gunung diselenggarakan tidak lama setelah HUT Proklamasi tepatnya pada tanggal 19-20 Agustus 2016 sehingga panitia mengusung tema “Pesta Merdeka di Puncak Jazz Raya”.

Maksud dari tema tersebut adalah musik Jazz adalah cara untuk merayakan kemerdekaan berekspresi dan tentunya penyelenggaraan Jazz Gunung tahun ini sekaligus digunakan untuk merayakan HUT RI. Jazz Gunung 2016 dibuka oleh penampilan musik dari musisi asal Spanyol yang tahun sebelumnya juga tampil pada acara ini yaitu Ian Scionti Trio.

Selain itu musisi-musisi lain yang hadir antara lain : Ermy Kullit, Shaggydog, The Groove, Ring of Fire feat Bonita and Ricad Hutapea, Samba Sunda, Dwiki Dharmawan Jazz Connection dan Nial Djuliarso Trio feat Arief Setiadi.

Tahun 2017 Jazz Gunung memiliki hal spesial dibandingkan penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya. Pada kesempatan tersebut Jazz Gunung memberikan penghargaan untuk almarhum Jack Lesmana, seorang yang telah dianggap sebagai ‘bapak’ musik Jazz di Indonesia.

Dengan mengangkat tema Merdekanya Jazz Meneguhkan Indonesia Jazz Gunung 2017 dimeriahkan oleh Glenn Fredly feat. Ruth Sahanaya, Indra Lesmana Keytar Trio, Dewa Budjana Zentuary, Monita Tahalea, Sri Hanuraga Trio & Dira Sugandi, Maliq & D’essentials, Ring of Fire Project dan Paul McCandles with Charged Particles (Amerika Serikat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

16 − thirteen =