Home » Info » Gawai Dayak, Ritual Kuno menjadi Even Internasional

Gawai Dayak, Ritual Kuno menjadi Even Internasional

Pulau Kalimantan, sebagai pulau terbesar di Indonesia terdapat tiga suku yang mendiami yaitu Melayu, Dayak dan Suku Banjar. Disinyalir Suku Dayak adalah suku paling besar di sana.

Kehidupan suku ini terkenal bukan hanya di Kalimantan, namun juga di seluruh penjuru nusantara bahkan ke manca negara. Di sana memang terkenal dengan kemistisannya dan kearifan lokal yang cukup kuat.. Konon pada masa penjajahan Belanda dahulu kala, para penjajah kabur karena takut, tidak berani melawan Suku Dayak.

Salah satu tradisi yang dilakukan Suku Dayak adalah Gawai Dayak, sebuah ritual sebagai ungkapan rasa syukur akan melimpahnya hasil panen. Pada mulanya ritual ini dilaksanakan di beberapa tempat berbeda dengan nama yang berbeda-beda pula.

Kemudian pada tahun 1968 terbentuk sebuah organisasi bernama Sekretariat Kesenian Dayak disingkat Sakberseda. Organisasi inilah yang menginisiasi perayaan Gawai Dayak terpusat menjadi satu di Kota Pontianak. Meski demikian banyak para tamu yang ingin bergabung dengan paket tour group mengambil dari paket wisata Balikpapan, karena kota Balikpapan seringkali menjadi kota transit/hub utama, juga karena hotel di Balikpapan juga cukup variatif.

Hal tersebut dilakukan karena Sakberseda melihat antusiasme masyarakat dalam tradisi ini cukup tinggi dan salah satu tugas organisassi ini adalah mengadakan dan mengawasi pagelaran seni budaya Dayak. Saat itu dilakukan di kota Pontianak pada tanggal 30 Juni 1986 dan pada masa-masa berikutnya ditetapkan bahwa Gawai Dayak akan dilaksanakan pada tanggal 20 Mei setiap tahunnya.

Saat itu pelaksanaan Gawai Dayak hanya bersekala lokal dalam lingkup provinsi Kalimantan Barat. Pemerintah daerah di sana sejak awal sudah sangat mendukung kegiatan ini baik pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi.

Sebenarnya inti dari acara ini hanya pembacaan mantra dan syukuran.  Rangkaian ritula dalam Gawai Dayak dilakukan di rumah panjang yang disebut lamin. Sebelum hari pelaksanaan tiba, akan dilakukan matik, pelantunan mantra oleh tokoh adat agar pelaksanaan tradisi tersebut tidak terdapat kendala apapun.

Pada prosesi ini akan ada pelumuran darah ayam jantan sebagai bahan persembahan.  Saat hari H tiba dilakukan pemberkatan beras agar bertahan lama dengan cara memanggil jiwa padi ke ruang tamu lalu mengumpulkan semangat padi di tempatnya dan tempayan beras. Sebatang ranyai beserta makanan dan minuman didirikan di tengah ruangan.

Ritual ini melibatkan berbagai unsur baik yang kasat mata seperti pemerintah, masyarakat maupun yang dipercaya tidak kasat mata seperti roh roh leluhur. Masyarakat akan mengenakan pakaian tradisional sekaligus dengan perhiasan manik-maniknya. Untuk para perawan Iban dianjurkan untuk mengenakan perhiasan perak tradisional.

Seiring berkembangnya waktu, Gawai Dayak bukan hanya berisi ritual inti saja namun juga berbagai pertunjukan seni seperti tari-tarian dan nyanyian dari masing-masing daerah.

Tidak ketinggalan beraneka macam makanan khas dayak menjadi suguhan menarik dan kerajinan-kerajinan khas dayang sebagai buah tangan dan kenang-kenangan. Semua penduduk diizinkan untuk terlibat langsung dalam acara ini.

Menari dan bernyanyi bersama menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Gawai Dayak benar-benar menjadi sarana pengikat kebersamaan dan kekeluargaan antar suku Dayak. Apalagi pada zaman dahulu kala sempat dikabarkan bahwa suku Dayak sering bertempur antar satu suku dengan yang lainnya.

Ada sebuah mitos yang mendasari awal mula penyelenggaraan Gawai Dayak ini yaitu sebuah folklore berjudul Nek Baruang Kulup . Di sebuah tempat bernama Gunung Bawakng ada seekor burung pipit mencuri padi milik Jubata.

Jubata adalah sebutan untuk suatu sebutan untuk junjungan masyarakat suku Dayak yang dipercaya memiliki power cukup besar dalam kehidupan makhluk di bumi.  Setangkai padi tersebut jatuh ke tangan Nek Jaek, saat itu ia sedang mengayau.

Nek Jaek kemudian pulang dan ingin membudidayakan setangkai padi tersebut namun justru ia diejek dan diusir. Nek Jaek memudian pergi mengembara dan bertemu dengan Jubata. Mereka kemudian menikah dan memiliki anak bernama Nek Baruang Kulup.

Anak hasil perkawinan Nek Jaek dan Jubata ini memiliki hobi bermain gangsing  di bumi. Sembari turun ke bumi ia juga membawa padi untuk manusia. Akibat perbuatannya tersebut akhirnya Nek Baruang Kulup diusir dari Gunung Bawakng hingga akhirnya bergaul dan menikah dengan manusia. Manusia pada masa itu mulanya hanya mengkonsumsi jamur sebagai sumber kehidupannya. Dengan begitu manusia mulai mengenal padi sebagai konsumsi sehari-hari.

Akan tetapi untuk menikmati hal tersebut terjadi pengusiran di lingkungan keluarga Jubata sehingga Jubata tidak dapat lagi dilihat oleh manusia kecuali Jubata itu sendiri yang ingin memperlihatkan diri.

Padahal jasa Jubata untuk manusia sangat besar. Jubata mengajarkan orang Dayak bertani, mengobati penyakit dan memberi anugrah kekuatan pada orang tertentu. Jubata juga mengajarkan manusia menghormati arwah nenek moyang dan melantunkan doa.

Atas dasar kebeikan-kebaikan inilah kemudian masyarakat mengadakan ungkapan rasa syukur melalui ritual Gawai Dayak.

Tradisi semacam ini merupakan kearifan lokal yang sangat penting untuk dilestarikan. Agar masyarakat tidak bosan khususnya anak muda, maka pemerintah dan penyelenggara harus memiliki strategi khusus dalam pengembangan tradisi ini.

Pesta Gawai Dayak diubah nama menjadi Pekan Gawai Dayak pada tahun 1992. Dengan demikian perayaan tersebut dilaksanakan satu pekan penuh. Elemen acaranya tentu saja bertambah seperti berbagai macam perlombaan dan sajian seni dengan durasi yang lebih panjang.

Salah satu acara yang sebelumnya tidak ada adalah Pawai Gawai Dayak. Pawai ini diikuti oleh seluruh sanggar budaya di Kalimantan Barat dengan menggunakan pakaian khas suku Dayak.

Seluruh rangkaian acara  tersebut bebas diikuti oleh peserta dari manapun. Akan tetapi ada satu even khusus hanya untuk putra putri keturunan Dayak saja yaitu pemilihan Bujang dan Dara Gawai.

Setelah terpilih mereka akan dinobatkan sebagai duta budaya dan pariwisata Kalimantan Barat. Meskipun pemilihan tersebut pesertanya dibatasi kalangan tertentu saja namun penampilan para peserta boleh disaksikan oleh siapapun.

Biasanya pengunjung juga akan disuguhkan dengan penampilan kolaborasi musik modern seperti DJ dan musik tradisional khas Dayak seperti Sape.

Acara yang rutin dilaksanakan lebih dari satu dasawarsa ini dari tahun ke tahun memiliki peningkatan kualitas.Dari hanya berskala provinsi, memasuki nasional, kini sudah mencapai ke internasional.

Tahun 2017 pertama kalinya Gawai Dayak kedatangan tamu mancanegara seperti dari Malaysia, Taiwan, Australia dan Polandia. Mereka tidak hanya datang berkunjung tapi juga turut tampil seperti suku Indian dari Amerika yang juga bernyanyi di Gawai Dayak.

Salah satu pengunjung dari Malaysia mengatakan bahwa Gawai Dayak di Pontianak berbeda dengan Gawai yang ada di Kuching maupun Serawak.

Hal tersebut dapat terjadi karena pemerintah dan masyarakatnya dapat bersinergi dengan baik. Selain menambah persatuan dan kesatuan antar kelompok suku dayak acara semacam ini juga dapat mengembangkan nilai ekonomi warga sekitar.

Kerajinan-kerajinan lokal bisa menjadi nilai jual yang cukup tinggi bagi pengunjung. Pengunjung juga pasti tidak akan mau ketinggalan menikmati makanan khas Dayak sehingga masyarakat asli bisa mengolahnya untuk dijual kembali. Jangan sampai acara semacam ini hilang karena hal-hal remeh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

19 + 14 =