Home » Info » Festival Semalam di Madura

Festival Semalam di Madura

Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, Madura, sebuah pulau kecil di ujung timur Provinsi Jawa Timur tidak kalah ketinggalan mengadakan festival budaya. Festival ini diberi nama “Semalam di Madura” berlokasi di Pemakasan merupakan salah satu wisata di Madura yang utama. Berbagai acara seni ditampilkan di sana sebagai hiburan bagi pengunjung yang datang.

Biasanya sebagai pembuka akan dilantunkan musik gamelan khas Madura sebagai penyambutan dan rasa hormat keapada tamu dan para undangan. Selanjutnya akan disajikan peragaan busana batik khas Madura, disusul oleh penampilan duta kesenian dari masing-masing kabupaten.

Biasanya tim kesenian dari Bangkalan menampilkan Andholenan Baong, Sampang menampilkan tari Pajjar Laggu dan Pemakasan sendiri menampilkan tari Tera’ Bulan, Baris, dan Topeng Gettak.

Meskipun dinamakan Semalam di Madura namun acara ini tidak hanya berlangsung selama satu malam melainkan empat hari dengan acara yang berbeda-beda. Acara tersebut antara lain pemilihan pemilihan Kacong – Cebbing Sumenep, Karapan Sapi dan Sape Sono’.

Karapan-sapiSapi memang memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat Madura. Terutama bagi masyarakat Pantura Pamekasan, kandang sapi menjadi bagian tidak terpisahkan di pekarangan rumahnya. Oleh sebab itu dua acara besar di Madura akrab dengan Sapi seperti Karapan Sapi dan Sape Sono’.

Tradisi karapan sapi biasa dilakukan masyarakat Madura saat musim panen. Sejarahnya konon pada zaman dahulu kala tanah Madura memiliki kualitas kurang subur sebagai lahan pertanian.

Kemudian salah satu ulama Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi atau dikenal dengan sebutan Pangeran Katandur memperkenalkan cara bercocok tanam. Caranya adalah dengan menggunakan nanggala atau salaga dari sepasang bambu yang ditarik oleh dua ekor sapi untuk membajak sawah. Sapi yang dipilih adalah sapi jantan agar lebih kuat.

Melihat perubahan tanah yang mulanya tandus menjadi subur, masyarakat kemudian mengikuti cara tersebut hingga hasil panen melimpah. Sebagai ungkapan kegembiraan warga atas hasil panen tersebut, Pangeran Katandur mengajak warga di sana untuk mengadakan balapan sapi.

Kini acara tersebut  dikenal dengan karapan sapi di area sawah yang sudah dipanen. Karapan sebenarnya berasal dari kata kerapan, artinya adu sapi menggunakan kaleles, sarana pelengkap untuk dinaiki joki karapan. Orang Madura biasa menyebut joki ini dengan tukang tongko. Sapi yang digunakan untuk karapan disebut sapi kerap.

Festival Sapi di Madura ini memang biasa selalu menyedot perhatian wisatawan, sehingga banyak yang bergabung di paket Tour Madura, terutama bagi yang mengutamakan kenyamanan.

Sapi kerap berbeda dengan sapi biasa, ia memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri tersebut antara lain berdada iar (kecil di bawah), berpunggung panjang, berkuku rapat, tegak, kokoh, memiliki ekor panjang dan gemuk.

Sapi biasanya dibagi menjadi tiga macam yaitu, sapi cepat panas, sapi dingin dan sapi kowat kaso. Jenis-jenis ini tentu saja mempengaruhi harganya. Sapi cepat pana s adalah sapi yang hanya diolesi bedak panas dan obat-obatan cepat terangsang untuk beradu. Berbeda dengan sapi dingin yang harus dipecut berkali-kali bila ingin bertanding. Sedangkan sapi kowat kaso sebelum bertanding harus melakukan pemanasan terlebih dahulu.

Panjang wilayah pacuan karapan sapi kurang lebih 180 hingga 200 meter dan berlangsung sekitar sepuluh detik  hingga satu menit. Mulanya acara ini memperebutkan piala gubernur namun mulai tahun 2013 Presiden Republik Indonesia saat itu Susilo Bambang Yudohyono memberi piala untuk pemenang sehingga kini piala yang direbutkan adalah piala presiden.

Sebelum dimulai pertandingan sapi-sapi tersebut diarak secara berpasangan mengelilingi arena pacuan. Iringan musik saronen menambah semarak arak-arakan.

Musik Saronen adalah musik rakyat dari Madura. Secara etemologi Saronen berasal dari plesetan bahasa Madura ‘sennenan’ artinya hari Senin.  Sebagai alat musik yang digunakan  yaitu soronen itu sendiri (semacam alat musik tiup bebrbentuk kerucut dengan enam buah lubang berderet di depan dan satu di belakang dengan pangkal atas ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis).

Instrumen lain yang mengiringi adalah gong besar, kempul, kenong besar, kenong tengahan, kenong kecil, korca, kendang besar dan kendang kecil bernama dik-gudik. Pada prosesi ini pula sapi-sapi tersebut dibacakan mantra mantra agar kuat dan dapat berlari dengan cepat.

Pada pelaksanaan karapan sapi terdiri dari empat babak. Babak pertama sapi-sapi tersebut dibagi ke beberapa kelompok kemudian diadu kecepatannya untuk menentukan yang menang dan yang kalah.

Babak ke dua pasangan-pasangan sapi yang menang akan diadu kembali bersama pasangan sapi yang menang lainnya, demikian pula pasangan yang kalah akan diadu dengan pasangan yang kalah lainnya.

Babak ketiga pasangan sapi yang menang masing-masing dipertandingkan lagi sebagai babak semifinal. Kemudian babak keempat sebagai babak terakhir dan babak final ditentukanlah juara I, II, dan III.

Acara ini merupakan ajang untuk mencari prestis masyarakat Madura yang bisa mengangkat derajat dan status sosial mereka.Harga sapi-sapi pemenang tersebut akan melambung sangat tinggi.

SEMALAM-SEMADURA

Oleh karena itu mulai dari kelas sosial dan sisi ekonomi pemilik sapi pemenang akan menjadi orang yang terpandang. Tidak ketinggalan pada ajang ini juga menjadi bahan taruhan para penontonnya.

Cara perawatan sapi-sapi ini agar menjadi juara memang agak sedikit sulit. Sapi-sapi karapan tersebut harus memiliki tubuh yang sehat. Makanan dan minuman yang sapi-sapi tersebut konsumsi sangat diperhatikan.

Aneka jamu dan puluhan telur ayam perhari akan diberikan untuk menambah stamina terutama menjelang hari H pelaksanaan karapan sapi.

Jika karapan sapi hanyalah melibatkan sapi jantan untuk bertanding, sapi betina di Madura tentu tidak ingin kehilangan pamornya. Acara untuk para sapi betina dikenal dengan Sapi Sono’.

Memang acara ini tidak seterkenal karapan sapi namun acara ini merupakan hal yang sayang untuk dilewatkan. Padahal acara semacam ini sudah ada sejak 50 tahun yang lalu. Apabila karapan sapi mengandalkan kekuatan dan kecepatan dalam berlari sapi sono’ justru mengandalkan keindahan dan keserasian pasangan sapi saat berjalan.

Kontestan sapi sono’ akan didandani sedemikian rupa agar terlihat cantik. Sapi-sapi tersebut akan dipakaikan baju serta beragam asesoris mewah. Mereka akan dilepas untuk berlenggak lenggok berjalan di lintasan sepanjang 200 meter diiringi oleh musik saronen.

Penilaiannya meliputi kondisi fisik sapi, pakaian dan asesoris yang digunakan serta langkah sapi. Pasangan-pasangan sapi tersebut harus berjalan sesuai dengan irama gamelan dan lurus tidak boleh menyentuh garis batas yang ditetapkan. Jika ada sapi yang menyenyuh garis batas maka nilainya akan dikurangi.

Sebenarnya kontes sapi sono berawal dari kebiasaan petani kabupaten Pamekasan saat sore hari. Biasanya pada waktu sore sapi-sapi betina itu dimandikan lalu dibariskan berjejer secara rapi pada tonggak kayu.

Kemudian petani-petani tersebut iseng mengadakan pemilihan sapi tercantik, termulus dan terbaik. Perlahan hal tersebut berkembang menjadi kontes tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi.

Harga sapi yang digunakan untuk sapi sono’ juga tidak kalah mahal dari sapi karap. Ada yang mengatakan bahwa sapi sono’ adalah sapi elit di Madura. Sapi sono’ juga diberi jamu-jamuan dan makan belasan telur ayam setiap minggunya.

Untuk perawatan harian sapi-sapi ini akan dimandikan dengan shampo dan sabun. Untuk menjaga kesehatan sapi setiap tiga bulan sekali pemiliknya akan mendatangkan dokter hewan. Harga pakaian dan asesoris yang digunakan juga tidak tanggung-tanggung bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu rupiah.

Madura memang memiliki keunikan tersendiri dalam menjaga tradisinya terutama cara mereka memperlakukan sapi. Oleh karena itu dengan kita berkunjung ke sana kita sudah mengapresiasi dan mendukung kemajuan tradisi khas Madura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

19 − 3 =