Home » Info » Festival Danau Toba, Adaptasi dari Tradisi Lama menjadi Tontonan Baru

Festival Danau Toba, Adaptasi dari Tradisi Lama menjadi Tontonan Baru

Indonesia memiliki beragam danau yang cukup indah mulai dari danau alami maupun danau buatan. Salah satu danau yang terkenal akan keindahannya adalah danau Toba di Sumatera Utara. Danau ini merupakan danau alami yang berasal dari gempa tekto vulkanik.

Danau ini pula sudah dinyatakan sebagai danau terbesar di Asia Tenggara. Di tengah Danau Toba terdapat pulau kecil bernama Pulau Samosir. Pulau ini juga merupakan pulau vulkanik akibat ledakan saat terbentuknya danau Toba.

Keindahan Danau Toba dapat dilihat dari berbagai sisi. Danau ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan memiliki air yang jernih. Selain itu ada pula tempat-tempat menarik seperti Batu Gantung Parapat, Air Terjun Si Piso Piso, Air Terjun Binangalom, Air Terjun Sampuran Efrata, Pulau Samosir, Desa Wisata Tomok, Pemandian Air Panas Danau Toba Pangururan, dan Bukit Gajah Bobok.

Tempat-tempat tersebut memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Untuk meningkatkan pengunjung maka bermacam-macam festival sepanjang tahun digelar di berbagai tempat di wilayah Danau Toba. Salah satu acaranya adalah Festival Danau Toba atau dalam Bahasa Inggris bernama Lake Toba Festival.

Festival danau Toba sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 80-an. Dahulu kala namanya bukan Festival Danau Toba melainkan Pesta Danau Toba yang diselenggarakan secara internal saja.

Acara tersebut merupakan ungkapan rasa syukur Suku Batak. Bagi mereka keberadaan Danau Toba dalam kehidupan mereka memiliki peran yang sangat penting terutama masyarakat yang bermukim di sekitarnya.

Tempatnya sebagai resapan air dan flora dan fauna di sekitar itu mampu membantu masyarakat untuk bertahan hidup.

Memasuki tahun 2013 pemerintah melihat potensi wisata dalam Pesta Danau Toba, sehingga dikembangkanlah menjadi festival nasional dan internasional. Pemrakarsa penggantian nama tersebut adalah Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Nirwandar.

Bahkan Festival Danau Toba sudah dimasukan ke dalam agenda resmi pariwisata yang dikeluarkan oleh Kementrian Pariwisata. Diharapkan dengan begitu even ini dapat disaksikan masyarakat luas, bukan hanya masyarakat lokal dari suku Batak.

Tidak ada lokasi tetap pelaksanaan Festival Danau Toba karena penyelenggaraannya yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat lain. Pada tahun 2013 even ini dilaksanakan di Tuktuk, Batuhhida (Simanindo) dan Pangururan.

Pelaksanaannya memakan waktu selama 15 hari diisi oleh berbagai lomba, workshop, dan acara-acara hiburan lain. Lomba-lomba tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat sekitar namun juga warga negara asing. Banyak pengunjung yang bergabung dengan paket tour Danau Toba seringkali melakukan pencarian melalui berbagai paket Tour di Medan.

Seperti lomba perahu naga yang diikuti pula oleh Malaysia, Thailand, Singapura tentunya Indonesia sendiri.  Kemudian pada tahun 2014 Festival Danau Toba dilaksanakan di Kabupaten Toba Samosir.

Pada tahun 2015 Festival Danau Toba memilih tempat yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Lokasi tersebut tidak berada di sekitar danau melainkan mendekati Gunung Sinabung, tepatnya di Berastagi, Karo, Sumatera Utara.

Meskipun kondisi saat itu Gunung Sinabung sedang berduka, hal tersebut lakukan di sana agar wisatawan yakin bahwa tidak semua wilayah Karo terkena erupsi Gunung Sinabung, seperti Berastagi yang masih aman untuk dikunjungi.

Tahun 2016 lokasi penyelenggaraan Festival Danau Toba kembali ke daerah dekat dengan danau di Dermaga Muara, Tapanuli Utara. Saat itu ditentukan pula pada tahun 2017 daerah Bakkara, Kecamatan Baktiraja, Humbang Hasundutan menjadi tuan rumah acara ini.

Di sini pengunjung bisa menikmati pemandangan yang sangat cantik. Di dalam Bakkara terdapat lembah yang berisi beberapa dusun dan desa dibelah dengan dua aliran air sungai.

Salah satu pertunjukan yang tidak pernah ketinggalan dalam Festival Danau Toba adalah tari massal 4 puak Batak. Tari-tarian tersebut antara lain Tari Roti Manis dari Tanah Karo, Tari Tolu Sahundulan dari Simalungun, Tari Tak-tak Amera dari Dairi dan Tari Tor-tor dari Tobasa.

Tari Roti Manis adalah salah satu tari kreasi tradisi bercerita mengenai sikap santun pemuda dan pemudi dalam bergaul di lingkungannya.  Tari Tolu Sahundulan mengandung makna sebagai tiga dasar sistem kekerabatan Suku Batak.

Tari Tak-tak Amera dari Tor-tor merupakan tari yang cukup terkenal di kalangan suku Batak. Para penari tersebut berasal dari masing-masing tempat asal tari tersebut muncul.

Peserta even ini bukan hanya berasal dari tempat-tempat yang disebutkan sebelumnya. Peserta yang terlibat di dalam even ini juga melibatkan kabupaten dan kota di Sumatera Utara yang berjumlah 16.  Tapanuli Tengah; Sibolga; Batubara; Binjai; Langkat; Serdang Bedagai; Padang Sidempuan; Labuhan Batu dan Labuhan Batu Utara, merupakan kota/kabupaten yang berasal jauh dari kawasan Danau Toba.

Sedangkan kota/kabupaten di wilayah Danau Toba sendiri terdiri dari Karo, Samosir, Tapanuli Utara, Dairi, Toba Samosir, Humbanghasundutan, dan Pakpak Bharat. Tidak hanya itu Provinsi lain juga turut memeriahkan seperti Kalimantan Tengah, Bangka Belitung dan Papua.

Selain itu adapula karnaval kain Ulos. Pada tahun 2015 sepanjang 500 meter kain Ulos berwarna hitam dipegang oleh warga melintasi jalan raya menuju Pasar Buah Berastagi. Karnaval ini membawanya mendapat apresiasi dari MURI sebagai kain Ulos terpanjang.

Untuk memacu masyarakat tetap menjaga dan melestarikan Kaldera Toba, pemerintah membuat satu program unggulan. Program tersebut adalah pemberian penghargaan kepada tujuh orang dari masing-masing kabupaten yang dianggap memiliki kepedulian tinggu terhadap Danau Toba.

Sama seperti halnya daerah lain yang memiliki duta pariwisata masing-masing, Sumatera Utara memiliki Duta Wisata yang dipanggil Ucok-Butet. Mereka juga dipilih dalam rangkaian acara Festival Danau Toba.

Rangkaian acara Festival Danau Toba sukses membuat Wisatawan meningkat tajam. Acara yang mulanya ahanya melibatkan ratusan orang kini ribuan orang terlibat di dalamnya baik sebagai penikmat, panitia, maupun pengisi acara. Oleh sebab itu jika ingin menikmati acara ini sebaiknya pengunjung sudah mempersiapkan sejak jauh-jauh hari.

Wisatawan juga harus memperhatikan di mana lokasi penyelenggaraannya saat waktu kujungan yang diinginkan wisatawan mengingat lokasi acara berpindah-pindah. Sebenarnya banyak hotel di sekitar Danau Toba dan Pulau samosor namun penginapan di daerah sekitar acara tersebut juga ditakutkan tidak memiliki kuota yang cukup.

Meskipun demikian bukan artinya akan mengurangi kenyamanan wisatawan untuk berkunjung. Selama pengunjung mempersiapkan diri dengan baik maka akan terasa nyaman. Lagipula masyarakat di sana juga cukup baik meskipun nada bicaranya cukup tinggi sehingga bagi orang dari beberapa tempat lain terkesan sedang marah-marah.

Untuk mencapai ke tujuan wisatawan asing atau dari tempat jauh bisa menggunakan pesawat dan disarankan mendarat di Bandara Udara Silangit karena waktu tempuhnya relatif lebih singkat dibanding dari Badara Udara Kuala Namu.

Dari Bandara kita bisa menggunakan angkutan berupa taxi atau menyewa mobil. Jangan sampai kelewatan menyaksikan Festival adat yang hanya dilakukan setahun sekali oleh pemerintah Sumatera Utara ini.

Dengan menyaksikan festival semacam ini secara tidak langsung kita turut melestarikan budaya Indonesia dan tentunya membantu ekonomi kreatif di tempat tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

1 × 4 =