Home » Info » Festival Danau Sentani – Kombinasi dari berbagai Suku

Festival Danau Sentani – Kombinasi dari berbagai Suku

Papua sebagai salah satu provinsi paling Barat di Indonesia memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik terutama pada sektor lautnya. Tempat yang jarang terjamah membuat lokasinya masih sangat lestari.

Akan tetapi hal tersebut bukan berarti membuat Papu serta merta berdiam diri tanpa membuat suatu gebrakan apapun untuk meningkatkan potensi wisatanya.

Sama seperti tempat-tempat lain di Indonesia, Papua juga tidak mau ketinggalan untuk menyelenggarakan sebuah festival besar hingga kancah internasional yaitu Festival Danau Sentani.

Sejak tahun 2007 selama lima hari berturut-turut di pertengahan bulan Juni, festival Danau Sentani diadakan. Danau Sentani sendiri merupakan sebuah danau yang berada di lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops.

Sebagai danau terluas di Papua, danau ini memiliki luas 9.360 hektar yang terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Danau yang sangat indah ini memiliki berbagai macam versi legenda yang beredar di kalangan masyarakat.

Terkait kebenaran legenda tersebut tentu saja patut dipertanyakan karena sebenarnya Danau Sentani merupakan danau alami yang termasuk kedalam danau tropis. Danau tropis adalah danau yang muncul di daerah tropis dan memiliki air dengan suhu selalu di atas 40 derajat celsius.

festival_danau_sentani

Keindahan Danau Sentani dapat dilihat dari hamparan air berhiskan pulau-pulau kecil yang membentuk berbagai bukit hijau menawan sebanyak 22 buah. Di dalam pulau-pulau tersebut didiami oleh masyarakat dengan beragam adat dan suku.

Dahulu kala, pada zaman Perang Dunia II pulau-pulau ini pernah pula menjadi tempat latihan pendaratan pesawat amfibi. Sebenarnya tempat latihan tersebut dibangun oleh Jepang namun pada tahun 1944 Amerika Serikat mengambil alih tempat tersebut dan ditinggali oleh salah satu orang yang cukup disegani dalam hal peperangan dari Amerika yaitu MacArthur.

Sentani sendiri diberi nama oleh seorang pendeta Kristen BL Bin pada tahun 1989 saat melakukan kegiatan misionaris di wilayah tersebut. Arti nama Sentani adalah “di sini kami tinggal dengan damai”. Sesuai dengan namanya sebanyak 16 suku mewarnai area danau tersebut dengan damai dan nyaman.

Festival Danau Sentani sendiri sudah masuk ke dalam kalender pariwisata yang diterbitkan oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia. Dalam acara ini tidak hanya dihadiri oleh turis dalam negeri saja namun juga turis mancanegara.

Pada umumnya turis yang datang ke acara ini adalah turis asal Belanda. Mereka akan menyaksikan atraksi dari berbagai suku di Papua. Suku-suku kecil di sana berpotensi rawan bentrok antara satu sama lain. Oleh sebab itu dibuatlah suatu acara yang pada mulanya diharapkan dapat menyatukan dan menambah rasa nasionalisme dari suku-suku tersebut.

Bentuk atraksi yang mereka tampilkan adalah berbagai kegiatan seni seperti seni tari dan musik. Seperti tari Yospan, tari Perang, tari Ahohoi, tari Isolo, dsb. Tari-tari tersebut diiringi oleh musik live dengan alat musik utama Tifa. Pertunjukan-pertunjukan tersebut dilakukan di atas perahu. Mereka tampil di tengah-tengah danau Sentani. Perahu-perahu tersebut berasal dari kampung asal mereka masing-masing untuk bergerak menuju pulau Asei.

Para pelaku seni tersebut berasal dari berbagai suku di Papua baik itu dari Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Yalimo, Sarmi, Memberano Raya, Boven Digul, dan suku Asmat. Selain itu beberapa paguyuban seni di luar Papua juga turut memeriahkan festival ini.

Lokasi inti festival Danau Sentani dilaksanakan di kawasan wisata Khalkhote. Sebenarnya Kalkhote pada awalnya bukan lokasi wisata melainkan dermaga kemudian ditata menjadi tempat wisata.

Selain pertunjukan seni, pada festival ini juga terdapat ritual adat yaitu penobatan Ondoafi.Nama lain dari Ondoafi adalah ondofolo, sebutan untuk kepala adat masyarakat Sentani.

Dalam pemerintahan adat di sana, posisi Ondoafi berada di atas kepala suku. Jadi di dalam satu kampung biasanya terdapat satu ondoafi dan lima kepala suku yang disebut Kose. Di Papua sendiri terdapat sembilan wilayah adat.

Penentuan Ondoafi merupakan warisan secara turun temurun. Ritual ini dilakukan di pulau Asei setelah arak-arakan selesai. Salah satu bentuk ritual ini adalah pembayaran harta kepala orang yang meninggal.

Pengunjungpun tidak perlu risau jika perut sudah mulai kosong karena beragam sajian kuliner khas Papua juga tersaji di sana. Pengunjung bisa menikmati berbagai kuliner khas Papua seperti produk olahan coklat, buah merah, olahan sagu dan kopi. Harganya juga cukup terjangkau jika dibandingkan dengan nilai rupiah di sana yang tergolong mahal.

Contohnya bubur sagu atau papeda dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah untuk satu piring. Di dalamnya terdapat lima bungkus papeda dilengkapi dengan ikan goreng berukuran kecil. Selain itu ada pula pinang dan kapur.

Di Papua biasanya masyarakat mengkonsumsi ini untuk menggantikan rokok. Harga satu pinang sekitar dua ribuan, apabila ingin satu paket dengan kapur harganya sepuluh ribu isinya sekitar empat sampai lima.

Sama halnya jika pengunjung ingin membawa buah tangan untuk keluarga atau teman di rumah, di sana juga terdapat barang seni khas Papua. Barang barang tersebut merupakan kerajinan lokal khas masyarakat Papua seperti beragam bentuk kalung, gelang serta gantungan kunci motif Papua.

Selain itu untuk pecinta seni rupa juga bisa mendapatkan patung Asmat, kerajinan kulit, batik Papua dan  ukiran Kamoro. Atau jika penasaran dengan pakaian adat Papua yang cukup unik bisa juga membeli koteka dari Suku Dani.

Tunjuan utama diselenggarakan festival Danau Sentani adalah untuk melestarikan seni, adat dan budaya khas Papua. Selain itu diharapkan dengan adanya festival ini juga meningkatkan potensi wisata di Jayapura, selain juga keberagaman paket tour di Raja Ampat.

Konon pada zaman dahulu perang suku di daerah Papua sudah menjadi hal yang lumrah. Akan tetapi semenjak adanya festival ini hal tersebut sudah tidak pernah terjadi lagi.

Bahkan peperangan tersebut ditransformasikan ke dalam bentuk tarian yang menghibur yaitu Tari Perang. Tari Perang ini merupakan tari wajib pada perhelatan akbar festival danau Sentani.

Untuk menyaksikan festival ini wisatawan dari tempat asal bisa menggunakan pesawat dan mendarat di Bandara Sentani, kabupaten Jayapura. Setelah turun dari pesawat, di bandara terdapat banyak pilihan alat transportasi mulai dari ojek hingga taxi.

Jika pengunjung ingin lebih nyaman dan berniat untuk menjelajah sekitar Papua bisa juga menyewa mobil yang banyak disediakan. Di sekitar danau Sentani terdapat beragam penginapan meskipun relatif sedikit. Tidak ada hotel berbintang, hanya ada hotel-hotel kelas melati. Hotel berbintang seperti hotel di Jayapura berlokasi cukup jauh dari danau Sentani.

Sedikit merepotkan jika kita ingin menikmati Festival Danau Sentani jika jarak tempuhnya memakan waktu lama. Selain itu, wisatawan bisa pula menginap di rumah-rumah penduuduk atau biasa disebut homestay.

Apabila wisatawan ingin benar-benar menyaksikan Festival Danau Sentani, sebaiknya sudah membooking penginapan sejak jauh-jauh hari mengingat acara ini didatangi oleh ribuan orang. Khawatir jika mendadak tidak mendapat penginapan yang layak.

 

One thought on “Festival Danau Sentani – Kombinasi dari berbagai Suku

  1. Amalia says:

    wah baru tau kalau danau sentani ada festival nya, kapan kapan harus coba mampir, terima kasih gan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

three × 1 =