Home » Info » Buleleng Folk Festival

Buleleng Folk Festival

Buleleng adalah salah satu kabupaten di Provinsi Bali yang merupakan kabupaten terluas di Bali. Dahulu kala tempat ini adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh  I Gusti Anglurah Panji Sakti sekitar abad ke tujuh belas.  Pada tahun 1849 kerajaan ini sempat jatuh ke tangan Belanda.

Secara geografis Buleleng berada di Bali bagian utara dengan kondisi topografinya berupa gunung berapi dan gunung mati. Tidak ketinggalan pantai dan danau juga terdapat di sana.

Posisinya yang jauh dari pusat kota membuat tempat ini jauh dari hingar bingar citra Bali layaknya di tempat-tempat lain. Untuk mendongkrak potensi pariwisata di sana maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng mengadakan sebuah acara bernama Buleleng Folk Festival.

Buleleng Folk Festival pertama kali dilaksanakan pada tahun 2013 dengan tema “My City, My Pride”. Acara ini didasari oleh pemikiran untuk melestarikan, mendokumentasikan dan mempromosikan budaya lokal. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 23-25 Agustus 2013.

Buleleng Folk Festival menyajikan berbagai kebudayaan khas Buleleng mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, makanan dan juga sastra.Pusat acara diadakan di kawasan Tugu Singa Ambara Raja.

Pertunjukan paling istimewa pada tahun ini adalah pentas tari Teruna Jaya secara kolosal. Sebanyak 300 orang penari didatangkan dari seluruh desa di kabupaten Buleleng untuk membawakan tari ciptaan Gede Manik – seorang maestro tari asal Buleleng.

Berbagai sanggar di kabupaten Buleleng turut memeriahkan rangkaian ini. Pementasan demi pementasan disajikan di setiap sudut tempat seperti sekaa gong, tari, angklung, wayang wong dan bondres (lawakan khas Bali).  Penyelenggara juga menghadirkan bintang tamu lokal seperti Yong Sagita, Band Ngesz dan Band Ngesz.

Sajian kuliner dari masing-masing kecamatan juga menjadi suguhan yang menarik. Harganyapun akan jauh lebih murah dari harga aslinya. Sebanyak 72 menu kuliner dijual setengah harga dari harga aslinya.

Salah satu contohnya adalah Siobal Khelok yang semula dijual dengan harga Rp 20.000 per porsi saat itu bisa didapatkan hanya dengan harga Rp 10.000 per porsi dan Mengguh Kedongkol dari harga normal Rp 6.000 per porsi menjadi Rp 3.000 per porsi. Hal tersebut bisa didapatkan karena pemerintah Kabupaten Buleleng mensubsidi kebutuhan pedagang.

Selain rangkaian acara yang bersifat menghibur, even ini juga memiliki acara yang bersifat edukasi seperti pada tahun 2013 diselenggarakan seminar kepahlawanan dan peluncuran buku antologi sastra. Lomba kuliner, lomba fashion show dan kontes Gadis Pariwisata turut mengisi rangkaian acara Buleleng Folk Festival. Festival ini secara signifikan meningkatkan tingkat okupansi hotel di Bali.

Memasuki tahun kedua Buleleng Folk Festival pada tahun 2014 sebanyak 900 penari membuka acara dengan membawakan Tari Nelayan. Penari-penari tersebut terdiri dari murid-murid SMP, SMA, SMK dan mahasiswa perguruan tinggi se  kabupaten Buleleng. Tari Nelayan adalah tari kreasi karya senuman asal Buleleng, almarhum I Ketut Merdana. Tarian ini ditampilkan selama 15 menit diiringi oleh gong kebyar, sebuah ensambel gamelan Bali kuno.

Tema Buleleng Folk Festival 2014 adalah “The Dynamic of Buleleng”.  Untuk rangkaian acaranya masih sama seperti tahun sebelumnya. Tentu tidak ketinggalan penyelenggara juga menghadirkan bintang tamu berskala nasional.

Para bintang tamu tersebut antara lain Triple X, Metromini Band, KIS Band,  AA Rock n Roll, Lolo n Band, Reefrock Band, Andra and The Backbone dan Dialog Dini Hari. Selain itu mulai tahun 2014 pelaksanaan Buleleng Folk Festival dilaksanakan menjadi satu dengan Buleleng Endek Festival. Festival ini merupakan sebuah parade fashion diiringi pleh Marching Band, mobil hias dan dokar hias.

Jika pada dua tahun sebelumnya pembukaan Buleleng Folk Festival ditampilkan berbagai atraksi tari, pada tahun 2015 pembukaan lebih menonjolkan seni musiknya.

Sebanyak 21 sekaa gong akan mengalunkan musiknya berderet di sepanjang Jalan Ngurah Rai. Hal ini dilakukan karena pada tahun 2015 pihak penyelenggara ingin lebih mengeksplorasi potensi musik di Buleleng, baik musik klasik maupun musik modern mulai dari musik tabuh tradisional hingga sejenis musik band.

Akan tetapi masing-masing sakaa gong tetap harus menyiapkan penarinya. Penari-penari tersebut akan membawakan Tari Teruna Jaya sebagai tari kebanggan Buleleng Timur dan Tari Wiranjaya sebagai tari kebanggan Buleleng Barat.

Selain itu, Buleleng Folk Festival 2015 juga dibuka dengan Lomba Nglawar di Tugu Singa Ambara Raja. Nglawar adalah pembuatan makanan khas Bali percampuran antara sayuran, daging dan parutan kelapa. Lomba ini bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kreatifitas para peserta dalam berinovasi pada cita rasa khas Bali.

Tahun 2016 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Buleleng merekontruksi tiga kesenian yang hampir punah. Ketiga kesenian tersebut antara lain Legong Tombol berasal dari Desa Banyuatis Kecamatan Banjar, Legong Pengelab dari Desa Jagaraga Kecamatan Sawan dan Musik Tabuh Singa Ambara Raja.

Salah satu dari kesenian tersebut yaitu tari Legong Tombol ditampilkan pada Buleleng Folk Festival 2016. Tari tersebut akan dibawakan oleh 50 orang penari di panggung utama.

Konsep yang diusung pada Buleleng Folk Festival 2016 masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan tema ‘‘Master Piece of Buleleng’’ acara ini dibuka dengan Tari Joged Massal khas Buleleng oleh ratusan penari.

Tari Joged merupakan tarian rakyat yang sudah dikenal hampir seluruh masyarakat Bali utara. Dipilihnya tarian ini untuk menghilangkan kesan bahwa tari Joged identik dengan porno.

Baik tari wali maupun tari rakyat ditampilkan dalam acara ini. Beberapa tempat sudah disiapkan untuk pementasannya. Tari-tari wali akan ditampilkan di puri-puri sedangkan tari rakyat yang sifatnya hiburan ditampilkan di panggung-panggung terbuka.

Tahun 2017 Buleleng Folk Festival dibuka dengan sebuah pertunjukan yang tidak kalah unik dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 acara tersebut akan dibuka oleh parade Ngoncang dan Baleganjur masal.

Sebanyak kurang lebih 850 seniman dari 20 sekaa disiapkan untuk parade ini. Ngoncang adalah kesenian dengan menggunakan alat penumbuk padi sebagai alat musiknya. Biasanya pemainnya adalah ibu-ibu dengan cara dipukul-pukul menggunakan kayu panjang.

Sedangkan Baleganjur adalah seni musik khas Bali yang memadukan instrumen musik tradisional. Sebelum parade dimulai panitia bersama Dinas Perikanan Kabupaten Buleleng menyiapkan ikan-ikan yang boleh dikonsumsi secara gratis oleh pengunjung. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya di depan Tugu Singa Ambara Raja, berderet penjual makanan khas Buleleng seperti belayag, daluman dan tipak canton.

Seluruh rangkaian acara ini melibatkan berbagai kalangan mulai dari pemerintah, seniman, sastrawan, pedagang dan masih banyak lagi. Pengunjungnyapun sudah pasti tidak hanya warga lokal tapi juga turis baik nasional maupun internasional mengingat Bali sangat terkenal di seluruh Dunia dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit.

Dengan acara semacam ini memberi bukti bahwa Bali benar-benar menjaga tradisi dengan baik. Apalagi diketahui banyak kesenian asli kabupaten Buleleng yang hampir punah bahkan sudah punah. Buleleng Folk Festival merupakan pertanda bahwa kesenian dan budaya Buleleng sudah mulai bangkit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

eleven + 19 =