Home » Info » Banyuwangi Festival menghadirkan Puluhan Festival Sepanjang Tahun di Banyuwangi

Banyuwangi Festival menghadirkan Puluhan Festival Sepanjang Tahun di Banyuwangi

Banyuwangi, sebuah kabupaten yang masuk ke dalam provinsi Jawa Timur memiliki berbagai macam keunikan. Salah satu keunikan dari Banyuwangi adalah kemistisannya. Banyuwangi terkenal dengan kehebatan santetnya atau teluh.

Keterkenalan santet di Banyuwangi terjadi karena sebuah tragedi pada tahun 1998. Saat itu sekitar ratusan dukun santet dibantai habis-habisan karena diduga membunuh orang-orang penting di Banyuwangi seperti imam masjid, guru ngaji dan ketua RT-RW.

Akan tetapi hal tersebut sudah tidak lagi terjadi di sana. Kini Banyuwangi menjadi sebuah tempat yang cukup menyenangkan dan memiliki potensi wisata yang cukup baik.

Saat ini banyuwangi memang terkenal dengan banyak event yang diselenggarakan dalam satu tahun. Seluruh event tersebut dijadikan satu dengan nama Banyuwangi Festival atau biasa disebut B-Fest.

Awal mulanya, acara ini diselenggarakan oleh pemerintah Banyuwangi sebagai peringatan hari jadi Banyuwangi pada tanggal 18 Desember dan diprakarsai mulai tahun 2012 oleh Abdullah Azwar Annas, bupati Banyuwangi saat itu.

Banyuwangi Festival Bukan hanya diselenggarakan dalam hitungan hari namun juga diselenggarakan dalam hitungan bulan yakni antara bulan September hingga Desember pada setiap tahunnya.

Saat ini Banyuwangi Festival diselenggarakan sepanjang tahun. Oleh karena itu tidak heran jika sebanyak puluhan event yang bisa disaksikan oleh pengunjung.

Tahun 2016 panitia penyelenggara menyajikan 58 even dan tahun 2017 72 even. Even-even tersebut terdiri dari berbagai kategori yang melibatkan banyak elemen.

Even utama yang tidak pernah ketinggalan pada setiap tahunnya yaitu, International Tour de Banyuwangi, Banyuwangi Etno Carnival, Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Beach Jazz Festival dan Jazz Ijen.

Banyaknya acara tersebut dimaksudkan agar penyelenggaraan Banyuwangi Festival dapat mendongkrak kreativitas masyarakat Banyuwangi khususnya anak muda. Banyuwangi Festival juga mewadahi komunitas-komunitas untuk berkarya dan menyajikan eksistensi dari komunitas tersebut. Bukan hanya komunitas seni yang dianggap dapat menghibur namun juga komunitas olahraga juga terlibat.

Hal ini membuktikan bahwa pemerintah Banyuwangi sangat peduli dengan kreatifitas masyarakatnya. Selain itu tentu saja diharapkan dengan diselenggarakannya acara ini dapat meningkatkan potensi pariwisata di kabupaten Banyuwangi dan mendorong berkembangnya sentra produksi ekonomi kreatif. Berkat acara ini banyak hotel di Banyuwangi ikut terdorong tingkat okupansinya.

Sebagai ilustrasi, Ketapang Indah Hotel di Banyuwangi yang merupakan salah satu hotel favorit di kota ini, seringkali full booked selama dalam periode acara festival.

International Tour de Banyuwangi merupakan acara balap sepeda internasional. Dalam even ini, para peserta akan bersepeda melewati keindahan sekitar lereng Gunung Ijen yang dikelilingi oleh perkebunan kopi. Tidak hanya itu pesepeda juga bisa mengeksplorasi Pantai Pulau Merah dan kawasan Agro Kalibendo.

Banyuwangi Etno Carnival merupakan karnaval busana etnik yang melewati jalan-jalan protokol di kota Banyuwangi sepanjang 2,2 kilometer. Dalam karnaval ini diharapkan masyarakat dapat lebih kreatif menerima modernisasi tanpa melupakan tradisi yang sudah ada. Terbukti sejak tahun 2011 tema yang diusung senantiasa mengandung tradisi Banyuwangi seperti:

2011 : Ikon Kesenian Banyuwangi

2012 : Re-Barong Using, mengenalkan kembali Barong khas Using

2013 : The Legend of Kebo-keboan, Salah satu budaya khas Banyuwangi tepatnya di Desa Alasmalang

2014 : The Mystic Dance of Seblang

2015 : The Usingnese Royal Wedding, mengangkat konsep pengantin ala suku Using

2016 : The Legend of Sritanjung Sidopakso, legenda Banyuwangi yang menceritakan kisah sumpah mati Sritanjung

2017 : The Majestic Ijen, menyajikan keagungan Gunung Ijen

Festival Gandrung Sewu adalah salah satu even di Banyuwangi Festival yang sangat sayang jika dilewatkan. Lebih dari seribu penari berpartisipasi dalam even ini.

Gandrung adalah tari tradisional khas Banyuwangi yang artinya suka cita dan terpesona. Tarian ini sangat erat kaitannya dengan mitologi Dewi Sri atau Dewi Padi sebagai Dewi Kesejahteraan oleh karena itu tari Gandrung dipersembahkan sebagai rasa syukur usai panan.

Sejak tahun 2002 Gandrung sudah dikukuhkan menjadi maskot Banyuwangi. Kemudian pada tahun 2013 Direktorat Warisan Budaya Tak Benda, Kemdikbud, menyatakan bahwa Gandrung merupakan salah satu Warisan Budaya Tak Benda.

Berbagai sekolah dan sanggar diwajibkan mempelajari tari Gandrung. Dengan adanya festival ini diharapkan masyarakat akan lebih termotovasi untuk mempelajari tari Gandrung dan memiliki wadah untuk berapresiasi terhadap kegiatan yang telah dipelajari dan dilakukan. Adapun tema yang diangkat setiap tahun adalah:

2012 : Jejer Gandrung, bertujuan agar masyarakat lebih mengetahui sejarah tari Gandrung.

2013 : Paju Gandrung, tema ini dipilih agar bisa lebih dekat dengan masyarakat. Paju artinya penonton pria yang biasanya turut diajak menari.

2014 : Seblang Subuh, menceritakan asal-usul Gandrung pada saat Banyuwangi dipimpin oleh Bupati Pringgokusumo.

2015 : Podo Nonton, ini diambil dari nama musik pengiring Gandrung Sewu pada tahun 2013. Alasan dipilihnya nama musik ini karena di dalam syair musik Podo Nonton terdapat heroisme dan perjuangan pahlawan Blambangan.

2016 : Seblang Lukinto, masih lanjutan dari pertunjukan tahun sebelumnya, menggambarkan perjuangan masyarakat Blambangan dalam mengusir penjajah.

2017 : Kembang Pepe, diambil dari salah satu gending klasik Banyuwangi.

Di dalam rangkaian Banyuwangi Festival terdapat tiga even jazz yang turut memeriahkan. Tiga even jazz tersebut adalah Ijen Summer Jazz, Banyuwangi Student Jazz festival, dan Banyuwangi Beach Jazz Festival.

Lokasinya tentu saja beragam sehingga tidak membosankan pengunjungnya. Ijen Summer Jazz di Java Banana Resort (di lereng gunung), Student Jazz Festival di Gedung Seni Budaya Banyuwangi (di tengah kota), dan Banyuwangi Beach Jazz Festival di Pantai Boom (di pinggir pantai).

Pada Student Jazz Festival, diharapkan muncul penerus-penerus musisi Jazz di Banyuwangi karena pada dasarnya even ini diadakan spesial untuk siswa siswi Sekolah Menengah.

Tidak hanya kegiatan seni, olahraga dan kegiatan tradisi lain yang ada dalam Banyuwangi Festival. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menunjukan kepeduliannya terhadap lingkungan. Hal itu dibuktikan dengan diadakannya Festival Toilet Bersih, Festival Sedekah Oksigen dan Festival Kali Bersih & Merdeka dari Sampah.

Festival Toilet bersih merupakan lomba kebersihan toilet di seluruh tempat umum. Nanti akan ada tim juri yang datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu untuk menilai kebersihan toilet di suatu tempat. Festival Sedekah Oksigen adalah sebuah nama untuk gerakan menanam pohon.

Ditargetkan dalam lima tahun terakhir, Banyuwangi dapat menanam sekitar 24 juta pohon. Hal ini sangat diperlukan agar kualitas udara di Banyuwangi memiliki indikasi yang bagus.

Sebagai kabupaten yang mempunyai mitos cukup unik mengenai sungai, Banyuwangi tentu harus unggul dalam menjaga kualitas sungainya. Inti dari kegiatan ini adalah membersihkan sungai dari sampah.

Aksi tersebut dilakukan dengan menaiki sampan menyusuri aliran sungai sehingga ada kesan dan keistimewaan tersendiri bagi masyarakat yang turut dalam aksi ini. Tidak ketinggalan aksi menabur bibit ikan di sungai juga menjadi kegiatan menarik. Dengan banyaknya ikan itu artinya sungai memiliki kualitas air yang baik dan bersih.

Even-even di atas hanya sebagian saja dari puluhan even menarik di Banyuwangi. Kini wisatawan yang ingin berkunjung ke Banyuwangi tidak perlu risau dengan waktu.

Kapanpun ingin berkunjung akan ada festival-festival menarik yang bisa dilihat meskipun memang ada beberapa festival unggulan. Apabila terlewatkan oleh salah satu festival, maka masih ada festival lain yang dapat disaksikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

seventeen − fourteen =